Laporan Kegiatan Stakeholder Meeting Update HDMS di Ambarukmo hotel 24 Juni 2015

LAPORAN KEGIATAN

Stakeholder Meeting Update of Hospital Delivery Managing System for TB and MDR-TB Phase 2 Project

Kerjasama antara: PKMK FK UGM Dengan RSUP Dr. Sardjito, RS Islam Jakarta Cempaka Putih dan RS Bethesda Yogyakarta

k1 Latar Belakang

Permasalahan TB dan TB-MDR di rumah sakit, seperti pasien dengan komplikasi atau dengan resistensi obat, kelayakan, efektif dan efisien dalam manajemen TB dan kasus TB-MDR masih sangat dibutuhkan pemecahannya. Upaya untuk meningkatkan kualitas manajemen kasus TB dan TB-MDR harus dimasukkan dalam sistem perbaikan klinis di rumah sakit. Peningkatan mutu dan efisiensi menjadi hal yang penting dalam pelayanan di rumah sakit, dikarenakan keduanya tidak dapat dipisahkan. Untuk itu perlu dikembangkan suatu model penatalaksanaan TB yang berbasis rumah sakit yang dapat mengakomodir kompleksitas manajemen rumah sakit. PKMK–FK UGM bekerja sama dengan OtsukaSwitzerland mengembangkan sebuah model inovatif penatalaksanaan kasus TB/MDR-TB di rumah sakit yang bermutu secara klinis dan efisien. Kegiatan intervensi ini menggunakan judul Sustainable Hospital Delivery Managing System for TB and MDR-TB Care (HDMS-TB) Phase 2. Kami memilih enam intervensi yang efektif dari manajemen mutu klinis (Prior et al , 2008. ), yang diadaptasi untuk projek HDMS fase 2 ini:

  1. Pengembangan pedoman pelayanan klinis (clinical care guideline) dan clinical pathways untuk setiap rumah sakit
  2. Edukasi interaktif, termasuk penyediaan materi pembelajaran, desain strategi edukasi interaktif, pelaksanaan dan evaluasi .
  3. Reminder dan sistem pendukung keputusan klinis
  4. Audik medik/klinik dengan umpan balik untuk peningkatan kinerja klinis
  5. Pengembangan Individual Key Performance Indicators (KPIs) untuk dokter
  6. Pengembangan budaya kualitas yang berisi siklus Plan- Do -Study – Act ( PDSA )

Selain itu, untuk meningkatkan pengelolaan keuangan rumah sakit kami berencana untuk strategi intervensi :

    1. Analisis biaya pelayanan TB/MDR-TB di rumah sakit

Kegiatan intervensi ini melibatkan 2 rumah sakit di Yogyakarta yaitu RSUP DR. Sardjito dan RS Bethesda, serta 1 rumah sakit di Jakarta yaitu RS Islam Jakarta Cempaka Putih. Hingga bulan Juni 2015 kegiatan intervensi HDMS TB dan TB-MDR telah memasuki bulan ke 13 dari total periode kegiatan dari Juni 2014 – Oktober 2015.Oleh karena itu, perlu dilakukan pertemuan dengan pemangku kebijakan terkait agar nantinya dapat diperoleh masukan bagi pelaksanaan proses projek serta penggunaan hasil projek dalam kebijakan pelayanan TB di rumah sakit.

a2 Tujuan

  1. Memaparkan perkembangan kegiatan projek HDMS TB/MDR-TB pada pemangku kebijakan
  2. Mendiskusikan potensi penggunaan hasil  sementara  HDMS Phase 2 Project dalam kebijakan pelayanan TB di rumah sakit

Undangan

  1. Subdit TB Dirjen P2 Kemenkes RI (1 orang)
  2. Subdit Rumah Sakit Dirjen BUK Kemenkes RS  (1 orang)
  3. KARS, PERSI, PAPDI, PDPI, IDAI, IDI, dan BPJS ( masing masing 1 orang)
  4. Direksi RSUP DR. Sardjito (3 orang)
  5. Direksi RS Bethesda Yogyakarta (3 orang)
  6. Direksi RS Islam Jakarta Cempaka Putih (3 orang)
  7. Tim HDMS Phase 2 di RSUP DR. Sardjito
  8. Tim HDMS Phase 2 RS Bethesda Yogyakarta
  9. Tim HDMS Phase 2 RS Islam Jakarta Cempaka Putih

Pelaksanaan

     Tanggal   : Rabu, 24 Juni 2015

     Jam         : 08.30 – 12.00

     Tempat    : Hotel Ambarukmo Palace

j1 Jadwal Pelaksanaan

WaktuMateriFasilitator
08.30 – 08.45RegristasiTim HDMS
08.45 – 09.00PembukaanProf. Dr. Adi Utarini, MPH, M.Sc, PHD.
09.00 – 10.00Presentasi Perkembangan HDMS Phase 2 ProjectDr. Ari Probandari, MPH, PHD
10.00 – 12.00Tanggapan
  1. Subdit TB
  2. Subdit RS
  3. Organisasi Profesi
  4. KARS
  5. Masing masing Rumah Sakit
Dr. Hanevi Djasri, MARS
12.00PenutupTim HDMS

Biaya Pembiayaan kegiatan ini sepenuhnya ditanggung oleh PKMK FK UGM.

Laporan Kegiatan  

final1Stakeholder Meeting Update of Hospital Delivery Managing System for TB and MDR-TB Phase 2 Project diadakan di Ruang Kencana Royal Ambarrukma Hotel pada tanggal 24 Juni 2015. Kegiatan ini mulai dilaksanakan pada jam 09.00 hingga jam 12.15 wib. Kegiatan  Meeting update  Project HDMS Phase 2  di hadiri oleh Perwakilan Direksi dari masing masing rumah sakit. Direksi dari RSUP Dr. Sardjito terdiri dari dr. Maduseno, Sp.PD, dr. Stephani, drg. Rini. Selain Tim HDMS dari RSUP Dr. Sardjito, dr. Bambang Sigit, Sp.PD dan dr. Heni Retno Wulan, Sp.PD. RS Bethesda Yogyalarta juga diwakili oleh Wakil Direktur Operasional, dan Tim HDMS RS Betehsda, yaitu dr. Iswanto, Sp.P, mBak Titin, dan Mas Irun. Sedangkan dari RS Islam Jakarta diwakili oleh Wadir Yanmed dr. Ummi, Tim HDMS RS Islam Jakarta seperti dr. Diana dan tim. Undangan yang lain hadir juga dari Dirjen BUK Kemekes RI dan Subdit TB Dirjen P2PL Kemenkes RI, dr Dini,  BPJS Pusat diwakili dari dr. Doni dari Kantor BPJS Cabang Yogyakarta. Hadir juga perwakilan dari PERSI Pusat. Sedangkan dari  Tim HDMS Phase 2 PKMK FK UGM hadir full team, dr. Yodi Mahendradata, MPH, MSc, PHD, Prof. Dr. Adi Utarini, MPH, M.Sc, PHD, dr. Ari Probandari, MPH, PHD dr. Hanevi Djasri, MARS Yos Hendra, SE, MM, Ak.  dr. Trisasi Lestari, MSc.Med, Ni Luh Putu Eka, SKM, M.Kes, Hary Sanjoto, S.Sos, MPH, dr. Nandy Wilaksono, MPIH, dan mBak Ega. Stakeholder Meeting Update of Hospital Delivery Managing System for TB and MDR-TB Phase 2 Project dibuka oleh Prof. Dr. Adi Utarini, MPH, M.Sc, PHD sekaligus sebagai wakil dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Dalam sambutan pembukaannya Prof. Dr. Adi Utarini, MPH, M.Sc, PHD mengucapkan terima kasih atas partisipasi dari 3 rumah sakit yang terus menerus secara aktif terlibat dalam project ini.  Di FK UGM ada 2 Pusat Penelitian tentang TB, yaitu di Tropmed UGM dan di PKMK FK UGM. Kegiatan ini ingin melihat secara detai tentang pelayanan TB di Rumah Sakit. Kegiatan HDMS sebagai suatu Action Research, maka tanpa respon yang baik dari rumah sakit tidak akan menghasilkan perubahan yang positif. Tanpa mengurangi arti peran dari rumah sakit maka banyaj hal yang dapat kita pelajari dari suatu proses itu sendiri, tanpa mengesampingkan hasil akhir dari project itu sendiri. Acara dilanjutkan dengan inti dari kegiatan ini yaitu penyampaian hasil hasil secara umum dari Project HDMS Phase 2 hingga hari ini oleh Principal Investigator (PI) dari project ini yaitu dr. Ari Probandari, MPH, PHD. Tujuan dari kegiatan hari ini adalah pertama, Untuk memberikan informasi terkini tentang status project, kedua, untuk membahas temuan awal dan langkah-langkah ke depan untuk kelanjutan project, dan ketiga, untuk membahas kemungkinan kebijakan program TB yang diperlukan untuk menanggapi temuan awal ini. Konsep besar dari HDMS ini menggunakan kerangka konsep dari The Chain of Effect in Improving Healthcare Quality (Berwick, 2001) dengan melakukan intervensi kegiatan di masing masing rumah sakit meliputi,

  • Pengembangan pedoman perawatan klinis dan alur klinis (clinicel pathway)
  • Intervensi pendidikan interaktif
  • Reminder dan sistem pendukung keputusan klinis
  • Audit klinis dan umpan balik
  • Pengembangan Individual Key Performance Indicator (KPIs) untuk dokter
  • Pengembangan budaya mutu (siklus PDSA)

final2Beberapa hasil telah dilakukan bersama dengan rumah sakit mitra yaitu telah tersusunnya clinical pathway untuk TB Dewasa maupun TB Anak di masing masing rumah sakit, telah tersusunnya media virtual untuk pendidikan interaktif dengan blended learning, telah tersusunnya sistem pendukung keputusan klinis dan reminder untuk klinisi berupa elektronik clinical pathway. Lebih lanjut juga telah dilakukannya audit klinis untuk pasien TB dan TB MDR dan TB Anak. Dan terakhir telah tersususnya unit cost untuk pelayanan TB di 3 RS. Project HDMS Phase 2 ini akan berakhir hingga Oktober 2015, untuk itu ada beberapa kegiatan yang akan diselesaikan pada periode Juli – Aktober 2015 yaitu,

  • Melanjutkan bantuan dalam intervensi dalam siklus PDSA pertama (Juli-Agustus 2015);
  • Pengembangan Key Performance Indicator untuk dokter (Juli-September 2015);
  • Melengkapi biaya satuan tanggapan estimasi perawatan (Juli-Agustus 2015)
  • Melakukan audit klinik intervensi pasca (pertengahan September 2015)
  • Melakukan pengumpulan data dan analisis kualitatif tentang hambatan dan fasilitator dari jalur klinis, dan intervensi lainnya (pertengahan September – Oktober 2015);
  • Laporan akhir (Oktober 2015).

final3Pemaparan berikutnya disampaikan oleh dr. Trisasi Lestari, MSc.Med PHD. Pemaparan ini merupakan hasil dari audit klinis pasien TB dewasa, anak dan TB – MDR. Tujuan dari audit klinis ini adalah:

  • Untuk mengukur kepatuhan pelayanan TB di rumah sakit untuk 13 International Standar Perawatan TB (versi 2)
  • Untuk menganalisis variabilitas antara rumah sakit dalam memberikan perawatan TB

Pelaksanaan audit klinis di masing masing rumah sakit dilakukan pada : Rumah Sakit Jakarta Islam: 17-18 Februari 2015, Dr Sardjito: 19-20 Maret 2015, dan Bethesda Rumah Sakit: 23-24 Maret 2015. Populasi yang diambil adalah semua rekam medis pasien dengan kode ICD A15.0 – A19.0, pasien dewasa dan anak-anak, periode pengobatan kasus TB sejak 1 Januari – 30 Juni 2014. Metode yang digunakan dengan systematic random sampling. Asessmen ini dilakukan untuk mengetahui kepatuhuhan terhadap standar; tidak sesuai standar, tetapi dengan justifikasi dibenarkan; dan tidak sesuai standar, tetapi dengan tidak bisa dijustifikasi untuk dibenarkan Pemaparan berikutnya dilakukan oleh dr. Hanevi Djasri, MARS, dengan judul materi Laporan Sementara Intervensi Clinical Pathways dan Clinical Reminder System yang meliputi ;

1. Proses penyusunan clinical pathways

  • Menetapkan topik Clinical Pathways
  • Mencari Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) sesuai topik terpilih
  • Menyusun PPK (Pedoman Praktek Klinis)
  • Menyusun Clinical Pathways

2. Hasil penyusunan clinical pathways

  • CP di RSUP dr. Sardjito: Pediatric TB, MDR TB
  • CP di RS Islam Jakarta : Outpatient adult TB case, Inpatient adult TB case with hemoptoe, and Outpatient pediatric TB case.
  • CP di RS Bethesda Yogyakarta: Outpatient adult TB case, Inpatient adult TB case, Inpatient TB-HIV case, Pediatric TB case, Inpatient TB-HDI Case

3. Evaluasi clinical pathways dengan tujuan:

  • Untuk mengukur kualitas Pathway Clinical untuk Perawatan TB menggunakan Integrated Care Pathway Appraisal Tool (ICPAT)
  • Untuk mengidentifikasi area untuk perbaikan dalam mengembangkan e-CP

     Evaluasi clinical pathway dimasing masing rumah sakit dilakukan pada: Bethesda Hospital : 11 and 20 March 2015, Sardjito Hospital: 16 March  2015, IJ Hospital : 17 March 2015. Reviewer external yang diundang adalah Dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, Dr. Choiruljah Sjahruddin, SpOG, MARS, Dr. dr. Rizaldi Pinzon, M.Kes, Sp.S

4. Proses penyusunan e-CP Membangun pemahaman bersama bahwa Clinical  Reminder System sebagai bagian dari Clinical Decisions Support System (CDSS): –     Reminder–     Decision support –     Catatan medis → e-CP

  • Pemahaman CP oleh tim IT
  • Penyusunan tampilan software dan Pembuatan software

5. Hasil penyusunan e-CP
6. Rencana tindak lanjut –    Revisi CP-    Revisi e-CP-    Evaluasi penggunaan CP dan e-CP

  • Kemudahan penggunaan CP dan e-CP
  • Identifikasi potensi integrasi dengan modul SIM-RS yang lain
  • Tingkat kepatuhan → Mutu pelayanan TB

final4Pemaparan berikutnya disampaikan oleh dr. Nandy Wilaksono, MPIH lebih menjelaskan tenatang hasil hasil sementara kegiatan interactive education learning. Kegiatan ini berbasis web, dan bisa diakses di http://tuberkulosisindonesia.net/hdms/ Pemaparan terakhir dari hasil sementara dari Project HDMS Phase 2 ini disampaikan oleh Yos Hendra, SE, MM, Ak. dengan judul Penyusunan Biaya Pelayanan TB. Diawali dengan proses penyusunan data yang meliputi mengidentifikasi unit-unit terkait pelayanan TB, pengumpulan data primer dan data sekunder, data sekunder dari laporan keuangan, laporan aset tetap, dan data primer dari pengisian template biaya. Hingga sekarang perhitungan sudah memasuki tahap final. Di 3 rumah sakit biaya biaya pelayanan TB dan TB-MDR sudah selesai, dan tahap berikutnya adalah akan diadakan satu kegiatan seminar memasukkan satuan satuan biaya tersebut dalam CP-CP TB yang telah disusun dimasing-masing rumah sakit. 

final5

Diskusi: dr. iswanto mengomentari tentang hasil dari klinical audit yang telah dilakukan. Pada rumah sakit yang sudah menjalankan eRM, maka jika data yang diambil hanya yang ada di RM saja tentu itu tidak klop. Di Bethesda sudah menjalankan eRM sejak tahun 2012. Sumber data yang paling lengkap untuk TB adalah yang ada di clinical patway nya, karena ini sudah dilakukan sejak tahun 2008. Yang kedua, saat sekarang cukup bnayak yang harus dilakukan oleh klinisi. Melakukan pencatatan di eRM, RM paper, CP dan e CP. Jika hanya yang elektrik yang dikerjakan maka orang dinasnya tidak mau. Ketiga, tadi dr. Dini mengatakan agar para klinisi untuk membatu mengisikannya. Sebenarnya semua itu telah dilakukan oleh klinisi, mungkin untuk anamnese dibantu oleh perawat yang ada. Nah dari 4 isian itu mana yang harus dikerjakan, apakah 4 itu harus dikerjakan semua… itu akan memper­berat dan lama lama tidak dikerjakan oleh klinisinya. Nanti waktunya lebih banyak nulisnya dari pada memerisa pasiennya. dr. Dini, Subdit TB, permasa­lahan yang terjadi di rumah sakit sebenarnya adalah banyaknya form-form yang harus diisi oleh klinisi alangkah baiknya jika itu semua disederhanakan. Dalam arti mengisinya 1 saja tetapi outputnya disesuaikan sesuai keperluannya. Kecuali untuk TB seperti Form TB 01 memang harus diisikan secara manual. dr. Sumardi, Sp.PD soal teknis pengisian ini memang masih menjadi perdebatan. Kalau menurut standar JCI RM itu bentuknya sudah ditentukan, lalu kemudian status harus diisi oleh klinisinya. Apakah setelah menulis semua status dan pasien pulang, klinisi baru memasukkan dalam eRM atau eCP ? ada duplikasi, ini tentu juga merepotkan bagi klinisi. Atau mungkin proses pengisian dalam eRM dan eCP didelegasikan ke petugas lainnya ? mungkin yang terakhir yang sepertinya bisa dijalankan

final6Tanggapan dari Prof Adi Utarini. Umpama cara berpikirnya berbalik bagaimana ? Pelayanan yang baik untuk pasien dan yang berhubungan dengan pasien adalah klinisi. Dari perpektif klinisi kalau memeriksa pasien, format mana yang membantu sehari harinya klinisi agar kita lebih muda mengetahui perkembangan kesehatan pasien. Bahwa diluar ada kepentingan dinas atau lembaga lain itu pasti ada. Fokus kita adalah mana yang menurut klinisi mempermudah menyelesaikan pekerjaan klinisi. Kita pingin mensupport TB care untuk menghasilkan outcome lebih baik. Ketika kita sudah menemukan formulasinya, pasti ada proses yang akan dapat memenuhi kebutuhan regulasi yang ada. Dr. Iswanto, kalau menurut saya yang paling cepat jika menggunakan yang elektrik. Apalagi kalau pasien kontrol tinggal copy paste saja. Di Bethesda saat sekarang sudah menggunakan eRM, untu eCP TB kedepan diharapkan bisa diintegrasikan dam eRM sehingga lebih ringkas. dr. Sumardi, sepertinya secara aspek legal dikatakan oleh undang undang bahwa menulis dalam paper masih harus dilakukan oleh klinisi. Sedangkan jika diaudit oleh JCI maka yang dilihat adalah papernya, sesuai atau tidak. Pada saat terjadi aspek legal maka yang dicari adalah tulisan dokternya. Jadi sepertinya elektronik akan sangat membantu akan tetapi klinisi tetap harus menuli apa yang dilihat dan diperiksa. dr. Ummi dari RS Islam Jakarta, kalau di Bethesda yg sudah menerapkan eRM apakah selain mengisi dalam format elektronik juga menulis hard copynya ? dr. Iswanto mengatakan sesuai arahan direktur mana yang lebih mudah dikerjakan maka diputuskan menggunakan eRM, akan tetapi jika ada kesulitan maka dapat dilakukan keduanya, misalnya kasus kasus tertentu di rawat inap. dr. Ummi melanjutkan bahwa di RS Islam juga demikian yang sedang dijalankan. Untuk outputnya diharapkan juga bisa memenuhi kebutuhan dari Dinas Kesehatan. Permintaan klinisi semua kegiatan merekam data pasien bisa dilakukan dalam 1 file, ini permintaan klinisi. Jadi tidak harus buka buka file yang lain. Lebih lanjut diskusi dalam pertemuan ini meliputi

  • Masukan bagi scope kegiatan
  • Implikasi bagi masing-masing stakeholders
  • Kebijakan yang diperlukan untuk memastikan kegiatan ini dapat berlanjut

Implikasi penggunaan e-CP

  • Keterkaitan antara e-CP dengan e-MR dan sistem pelaporan secara elektronik di tingkat RS, wilayah dan nasional

– Kebijakan direksi (sudah ada yang membuat kebijakan implementasi e-MR), perlu ada kebijakan terkait kerahasian, kebijakan tentang tahap2 penerapan secara bertahap, kebijakan tentang aspek hukum penerapan CP

– Kebijakan Kemenkes (sudah masuk renstranas) juga sudah ada pendekatan integrasi antar berbagai bentuk inovasi di RS (termasuk pelaporan dari berbagi program)

– Kebijakan BPJS sistem pelayanan primer s/d tertier

– Kebijakan PERSI terkait dengan implementasi CP diwilaya timur Indonesia

Keterkaitan antara CP dengan Cost of Care dan Tarif INA CBG

  • Clinical guidelines/pathways dulu atau Tarif INA CBG dulu?

– Harus clincial guideline dulu

– Organisasi profesi harus menerbitkan PNPK sebagai acuan penyusunan PPK dan CP

  • Subsidi silang antar diagnosis/tindakan?
  • Clinical pathways dengan penyakit penyerta atau penyulit
  • Advokasi hasil kegiatan ke NCC dan P2JK
  • Sistem pembiayaan dari beberapa sumber
  • Cara perhitungan unit cost apakah sudah tepat?

Tindak Lanjut Kegiatan

  • Sosialisasi ke RS lain melalui PERSI
  • Perlu tetap ada kegiatan Monev secara periodik oleh BUK

Terima kasih   
 

Materi:

icon-powerpoint Stakeholder meeting HDMS 2

icon-powerpoint Clinical Audit TB

icon-powerpoint Laporan Sementara Intervensi CP dan CDSS

icon-powerpoint Presentasi Unit Cost

icon-powerpoint Diskusi

Trackback from your site.

Leave a comment