Laporan Kegiatan Workshop Penyusunan Clinical Pathways Penatalaksanaan TB di Rumah Sakit HDMS TB and TB-MDR Phase 2

LAPORAN KEGIATAN

Workshop Penyusunan Clinical Pathways Penatalaksanaan TB di Rumah Sakit

HDMS TB and TB-MDR Phase 2. Meningkatkan Mutu dan Efisensi Pelayanan Klinis di Rumah Sakit

k1LATAR BELAKANG

Clinical Pathway adalah suatu alur proses kegiatan pelayanan pasien yang spesifik untuk suatu penyakit atau tindakan tertentu mulai dari pasien masuk sampai pasien pulang yang merupakan integrasi dari pelayanan medis, pelayanan keperawatan, pelayanan farmasi dan pelayanan kesehatan lainnya. Clinical Pathway bukan merupakan Clinical Guidelines atau Protocol karena setiap kasus dalam Clinical Pathway dibuat berdasarkan standar prosedur dari setiap profesi yang mengacu pada standar pelayanan dari profesi masing-masing, disesuaikan dengan strata sarana pelayanan rumah sakit.

Dengan penyusunan Clinical Pathway maka Manajemen Rumah Sakit dapat memanfaat-kannya sebagai dasar untuk menetapkan biaya yang dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan (cost of care) dan efisiensi pelayanan kesehatan di rumah sakit, sehingga masyarakat dapat segera mendapatkan kepastian biaya yang harus dibayarkan dan menghindari tindakan yang akan berdampak pada peningkatan mutu pelayanan kesehatan.

Model dan protokol penatalaksanaan kasus TB dan TB-MDR yang telah dikembangkan akan diimplementasikan di rumah sakit yang terdiri dari ;

  1.  Pengembangan pedoman pelayanan klinis (clinical care guideline) dan clinical pathways untuk setiap rumah sakit
  2.  Edukasi interaktif, termasuk penyediaan materi pembelajaran, desain strategi edukasi interaktif, pelaksanaan dan evaluasi.
  3.  Reminder dan sistem pendukung keputusan klinis
  4.  Audik medik/klinik dengan umpan balik untuk peningkatan kinerja klinis
  5.  Pengembangan Individual Key Performance Indicators (KPIs) untuk dokter
  6.  Pengembangan budaya kualitas yang berisi siklus Plan- Do -Study – Act ( PDSA )

Selain itu, untuk meningkatkan pengelolaan keuangan rumah sakit kami berencana untuk strategi intervensi :

  1.  Analisis biaya
  2.  Mengembangkan/upgrade sistem informasi akuntansi ( AIS )

Sebagai salah satu rangkaian kegiatan implementasi model inovatif tersebut, perlu dilaksanakan Workshop Penyusunan dan Pengembangan Clinical Pathway Penatalaksanaan Pelayanan TB di rumah sakit.

a2TUJUAN

  1. Menetapkan kasus penatalaksanaan TB yang akan disusun clinical guidlines dan clinical pathways dimasing-masingg RS, yaitu kasus TB yang   jumlah kasusnya cukup banyak, biaya cukup besar, risiko cukup tinggi dan sering berbeda penatalaksanaannya di RS
  2. Menyusun/merevisi clinical guidelines (pedoman pelayanan klinis) bagi kasus-kasus yang ditetapkan
  3. Menyusun/merevisi clinical pathway untuk penatalaksanaan TB bagi kasus-kasus yang ditetapkan

  Persiapan Peserta

  1. Peserta diharapkan dapat terdiri dari tim yang terdiri dari: dokter, perawat dan manajemen (termasuk rekam medis) maksimal sebanyak 20 orang.
  2. Peserta diharapkan membawa:      

              a. Laptop/Netbook untuk praktek
              b. Modem untuk akses internet mencari literatur yang diperlukan
              c. Standar Pelayanan Medik (SPM) dan Standar Asuhan Keperawatan (SAK) serta pedoman nasional/internasional yang terkait dengan          penatalaksanaan berbagai kasus TB
               d. Wajib membawa contoh-contoh rekam medis berbagai jenis kasus TB yang sudah pulang.

 Tempat dan Waktu Kegiatan :

Workshop Penyusunan Clinical Pathway dilakukan di rumah sakit peserta kegiatan ini. Senin, 15 September 2014 dilaksanakan di RSUP Dr. Sardjito Rabu, 17 September 2014 dillaksanakan di RS Islam Jakarta Cempaka Putih Kamis, 18 September 2014 dilaksanakan di RS Bethesda Yogyakarta

 j1JADWAL DAN MATERI

k3

 Peserta yang diundang

  1. Komite Peningkatan Mutu Rumah Sakit
  2. Komite Medis
  3. Tim DOTS di rumah sakit
  4. Dokter Spesialis dan Dokter Umum yang menangani kasus TB
  5. Staf dari Bagian Rekam Medis
  6. Staf dari Bagian Laboratorium
  7. Staf Bagian Akuntansi
  8. Peserta kurang lebih 20 orang

Pelaksanaan Kegiatan Workshop Penyusunan Clinical Pathway TB di RS.

k4

Workshop Penyusunan Clinical Pathway dilaksanakan dimasing masing rumah sakit. Workshop di RSUP Dr. Sardjito dilaksanakan pada tanggal 15 September 2014 di Ruang Kuliah 1 Gedung Diklat lantai 4. Di RS Islam Jakarta Cempaka Putih di laksanakan tanggal 17 September 2014 di Auditorium RS Islam Jakarta Cempaka Putih. Demikian halnya di RS Bethesda Yogyakarta dilakukan di Ruang H Lantai 3 RS Bethesda Yogyakarta. Undangan yang hadir meliputi Tim DOTS rumah sakit, baik TB Dewasa maupun TB Anak, Komite Peningkatan Mutu RS, Dokter Spesialis dan Dokter Umum, Perawat TB dan TB-MDR, Staf Rekam Medik dan Staf Laoratorium, juga Staf dari Bagian Akuntansi dan Verifikasi. Total undangan yang hadir kurang lebih 20 orang. Pelaksanaan workshop di RS Islam Jakarta Cempaka Putih dan RS Bethesda Yogyakarta juga dihadiri kurang lebih 20 orang, baik dari dokter spesialis, dokter umum, maupun staf penunjang, dan juga tim peningkatan mutu rumah sakit.

Workshop Penyusuanan Clinical Pathway di tiga RS dibuka oleh masing masing Direktur Rumah Sakit. Direktur Utama RSUP Dr. Sardjito, dr. M. Syafak Hanung, Sp.A pada saat pembukaan workshop menyampaikan beberapa hal antara lain;

  • Workshop ini merupakan awal dari kegiatan yang bekerja sama antara RSUP. Dr. Sardjito dengan PKMK FK UGM, dengan hasil akhir       diharapkan adanya peningkatan mutu dan efisiensi dalam pelayanan TB dan TB-MDR. 
  • Ada anggapan bahwa semua jenis penyakit harus dibuat clinical pathwaynya, itu tidak benar. Prioritasnya pada     jenis jenis     penyakit yang high volume. Dengan adanya clinical pathwaydiharapkan sesua pelayanan ini di RS Sardjito akan sama dengan biaya yang sama juga.
  • Pada era JKN ini perlu adanya sistem rujukan yang baik. Jangan sampai pasien yang berada di RS level 3 seperti di Sardjito ini justru dirujuk ke RS lain. Ini sudah tidak benar. Berhubungan dengan sistem rujukan juga perlu dipikirkan proses pembiayaannya.
  • membuka kegiatan workshop penyusunan clinical pathway secara resmi.

Sedangkan Direktur RS Islam Jakarta Cempaka Putih, Dr. Prastowo Sidi Pramono, Sp. A menyampaikan bahwa

  • Diharapkan kegiatan ini dapat memberikan dampak pada RSI di Cempaka Putih khususnya kasus kasus TB dapat ditangani dengan baik.
  • Kegiatan ini merupakan tindakan lanjutan dari fase 1 yang telah dilakukan. 11 dari 16 standar yang dinilai kita masih dibawah standar.
  • Diharapkan kedepan pelayanan TB sesuai dengan standar tatalaksana pelayanan pasien TB yang ditetapkan dan juga tidak kalah pentingnya juga  pelayanan dengan biaya yang efisien. Jadi diharapkan unsur kendali mutu dan kendali biaya menjadi diutamakan. Walaupun RS Islam Jakarta sudah mempunyai clinical pathway kasus TB.
  • Pertemuan ini juga menjadi modal bagi kita dalam mempersiapkan RS Islam Jakarta Cempaka Putih dalam pemenuhan Akreditasi RS versi 2012 pada pertengahan 2015.
  • Membuka kegiatan workshop secara resmi.

Demikian halnya dengan Direktur RS Bethesda Yogyakarta Dr. Purwoadi Sujatno, Sp.PD menyampaikan bahwa

  • Permohonan maaf karena kegiatan agak molor pelaksanaannya.
  • Workshop ini bukan yang pertama dengan Pak Hanevi, justru yang kedua ini diharapkan kita akan jauh lebih dapat cepat menyusun clinical pathway ini sekaligus mengevaluasi CP yang sudah ada yaitu pelayanan stroke dan pelayanan paru ini.
  • Beberapa CP juga sudah dibuat sebagai syarat akreditasi yang akan kita lalui beberapa bulan yang akan datang.
  • Yang terpenting bahwa dalam pelayanan harus sesuai standar, akan tetapi secara cost tidak terlalu berat. Untuk itu dibutuhkan evaluasi secara terus menerus.
  • Membuka workshop secara resmi.

Hanevi Djasri, MARS

k5Pemateri tunggal dalam workhop ini adalah dr. Hanavi Djasri, MARS dengan judul “Langkah Langkah dalam Penyusunan Clinical Pathway“. Beberapa catatan penting dari pemateri dalam workshop ini, yaitu bahwa model yang diperkenalkan ini merupakan model yang dapat menjamin upaya peningkatan mutu dan efisiensi biaya. Model ini sebenarnya dapat digunakan pada semua layanan klinis yang dikehendaki rumah sakit. Pada era JKN dengan BPJS dengan INA CBGsnya apa benar dapat meningkatkan mutu pelayanan ? jika efisiensi jelas ya. Dengan model ini menurut sistematik review terbukti efektif meningkatkan mutu dan efisiensi biaya. Clinical Pathways adalah sebuah upaya pemetaan mengenai tindakan klinis untuk diagnosis tertentu, kedua upaya mendokumentasikan clinical practice terbaik bukan hanya clinical practicesekarang. Dasar penyusunan dari clinical pathway adalah clinical guideline. Lebih lanjut diterangkan bahwa Clinical Pathway merupakan gabungan Ilmu pengetahuan saat ini, budaya, tradisi, etika, sumber daya yang tersedia, preferensi, kebutuhan dan keinginan konsumen, dan sistem pengukuran yang melekat. Dalam penyusunan Clinical Pathway dibutuhkan Penasehat, Identifikasi pemain utama, Kunjungan Lapangan, Pencarian Literatur, Customer Focus Group, Pedoman Praktek (practical guidelines), Analisis Casemix, Desain, Pengukuran proses dan outcome, dan Pengembangan Paket Pendidikan dan Pelaksanaanya.

Pertanyaan peserta saat workshop antara lain ;

  • Apakah kita dapat menyusun CP hingga kasus yang complicated tidak ? mengingat Sardjito sebagai rumah sakit rujukan tipe 3.
  • Apakah model ini merupakan redesign terhadap ketaat proses ?
  • Bagaimana mengawal pelaksanaan clinical pathway agar dapat dilaksanakan dengan baik ?
  • Bagimana dengan poin ke 12 ? Apakah bisa diisi yang lain ? misalnya pasien belum bisa pulang pada hari yang sudah ditentukan dalam clinical pathway.
  • Siapa yang menetukan poin pertama ? apakah DPJP atau perawat, penunjang medik atau nutrision ?
  • Bagaimana dengan dokter tamu dari rumah sakit tipe A. Mungkin tidak isi clinical pathway menyesuaikan dengan kebutuhan dari dokter senior tersebut ?

Sesi pertama setelah penyampaian materi adalah Penetapan Topik Penatalaksanaan TB di RS yang akan disusun Clinical Pathways-nya. Pada sesi ini tim TB rumah sakit dengan saran dari direktur dan komite peningkatan mutu masing masing rumah sakit menentukan clinical pathway apa yang akan disusun dalam workshop ini. Masukan dari fasilitator untuk penentuan kasus adalah bahwa sedapat mungkin kasusu yang dipilih berdasarkan high valume, high cost, high risk, and high variety of care.

Berdasarkan masukan dari masing masing direktur dan fasilitator, serta diskusi, maka Tim dari RSUP Dr. Sardjito memilih 2 topik, yaitu TB-MDR dan TB Anak General. RS Islam Jakarta Cempaka Putih memilih 3 topik Clinical Pathway, yaitu kasus TB Anak Rawat Jalan, TB Dewasa Rawat Jalan, dan TB Dewasa dengan Hemoptosis Rawat Inap. Sedangkan RS Bethesda Yogyakarta memilih 4 topik baru clinical pathway dan 1 topik evaluasi clinical pathway. 4 topik baru meliputi TB Paru Dewasa BTA (+) / (-) dengan Hepatitis Drugs Induced Rawat Inap, TB Paru Dewasa Rawat Inap, TB Paru BTA (+) / (-) dengan HIV, dan TB Anak Rawat Jalan. Sedangkan 1 topik clinical pathway yang dievaluasi yaitu TB Paru Dewasa Rawat Jalan.

Proses penentuan topik dan penyusunan clinical pathway di masing masing rumah sakit membutuhkan waktu diskusi yang bervariasi. Di RSUP Dr. Sardjito penentuan topik membutuhkan waktu yang cukup panjang. Hal ini dikarenakan kasus yang diambil relatif berat yaitu TB-MDR. Selain dari sisi kasus juga sebagai rumah sakit tipe A dan rujukan TB-MDR, dokter penanggungjawab TB-MDR di RSUP Dr. Sardjito yang dapat hadir hanya satu orang dan 1 orang perawat. Hal ini berbeda dengan penetuan topik yang lainnya, yaitu TB Anak, dimana 2 orang dokter spesialis senior hadir dengan 3 orang perawat. Hal yang sama juga terjadi pada penyusunan clinical pathway TB Anak Rawat Jalan di RS Bethesda Yogyakarta, dimana hanya satu dokter spesialis anak yang hadir dan tanpa dibantu oleh perawat Poliklinik Anak maka pada saat penyusunan clinical pathway relatif membutuhkan waktu yang lama.

Demikian hal nya pada saat presentasi hasil penyusunan clinical pathway. Tim TB-MDR RSUP Dr. Sardjito lebih banyak minta masukan hal hal apa yang mesti harus dimasukkan dalam clinical pathway, mengingat kompleksitas dari kondisi klinis pasien TB-MDR. Hal yang sama, kurang lebih juga terjadi pada Tim TB Anak di RS Bethesda, dimana dokter spesialis yang mempresentasikan draft clinical pathway berbeda dengan dokter spesialis yang menyusun clinical pathway TB Anak. Akan tetapi atas saran fasilitator, maka draft clinical pathway TB Anak Rawat Jalan di RS Bethesda dapat terselesaikan.

Kondisi yang berbeda dengan proses penyusunan dan presentasi hasil penyusunan clinical pathwaydi RS Islam Jakarta Cempaka Putih. Tim di rumah sakit ini cukup solid. Hal ini disemangati oleh upaya persiapan dari RS Islam Jakarta dalam memepersiapkan Akreditasi RS versi 2012. Tiga tim yang menyusun clinical pathway cukup lengkap, masing masing terdiri dari klinisi (spesialis dan umum), perawat dan penunjang. Pada saat pemilihan topik, penyusunan, dan presentasi clinical pathway cukup lancar.

k6Workshop Penyusunan Clinical Pathway di masing masing rumah sakit selama 3 hari menghasilkan 9 clinical pathway(draft) dan 1 evaluasi clinical pathway. RSUP Dr. Sardjito menghasilkan 2 draft clinical pathway yaitu kasus TB Anak General Rawat Jalan dan kasus TB-MDR. RS Islam Jakarta Cempaka Putih menghasilkan 3 draft clinical pathway yaitu kasus TB Anak Rawat Jalan, TB Dewasa Rawat Jalan, dan TB Dewasa dengan Hemoptosis Rawat Inap. RS Bethesda Yogyakarta menghasilkan 4 draft clinical pathway untuk kasus TB Paru Dewasa BTA (+) / (-) dengan Hepatitis Drugs Induced (HDI) Rawat Inap, TB Paru Dewasa Rawat Inap, TB Paru BTA (+) / (-) dengan HIV, dan TB Anak Rawat Jalan. Dan 1 clinical pathway yang dievaluasi yaitu TB Paru Dewasa Rawat Jalan.
  

 

Trackback from your site.

Leave a comment