Metode Penelitian – Rincian dari masing-masing strategi intervensi

Strategi intervensi untuk meningkatkan sistem manajemen keuangan di rumah sakit akan diterapkan dalam enam kombinasi dengan strategi perbaikan manajemen mutu. Rincian dari masing-masing strategi intervensi diberikan sebagai berikut.

        1. Pengembangan pedoman perawatan klinis (clinical guideline) dan clinical pathways untuk setiap rumah sakit.

Program TB Nasional telah menerbitkan Pedoman TB Nasional yang baru pada tahun 2014. Menurut Permenkes Nomor 1235 tentang Pedoman Praktik Kedokteran, semua rumah sakit harus mengembangkan pedoman klinis (clinical guideline) dan clinical pathways untuk semua penyakit umum yang dirawat di rumah sakit. Dalam rangka untuk mendapatkan akreditasi, rumah sakit harus mengirimkan minimal 5 pedoman klinis (clinical guideline) dan clinical pathways.

Di banyak rumah sakit, TB bukanlah penyakit yang paling umum, dan biaya pengobatan dianggap lebih rendah dari penyakit lainnya. Seringkali rumah sakit tidak memiliki pedoman klinis khusus untuk TB, dan dengan demikian menyebabkan variasi dalam praktek pelayanan TB di rumah sakit. Dalam studi ini, tim peneliti akan membantu rumah sakit dalam mengembangkan pedoman klinis rumah sakit dan clinical pathway untuk TB, yang akan disesuaikan sesuai dengan kapasitas rumah sakit untuk memaksimalkan hasil perawatan.

Clinical pathway yang akan disusun termasuk perawatan medis dan keperawatan untuk pasien TB. Berbagai tipe TB akan membutuhkan berbagai jenis clinical pathway. Tim, ahli dari organisasi dan tim profesional TB di rumah sakit akan membahas dan memilih lima jenis kasus TB, termasuk TB-MDR, untuk penyusunan clinical guideline dan clinical pathway. Kami akan melibatkan organisasi profesi Dokter Spesialis Paru, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dokter Spesialis Anak, dan Perawat.

        1. Edukasi interaktif, termasuk penyediaan materi pembelajaran, desain strategi edukasi interaktif,  pelaksanaan dan evaluasi.

Intervensi ini bertujuan untuk memfasilitasi dokter dalam memahami tentang Pedoman TB Nasional, dan clinical pathway untuk perawatan TB. Proses pembelajaran interaktif ini akan dirancang menggunakan teknologi informasi untuk memfasilitasi akses dokter terhadap literatur yang relevan dalam praktik.

        1. Sisten reminder dan pendukung keputusan klinis

Kami akan mengembangkan sistem pengingat bagi pasien dan dokter untuk membantu meningkatkan kepatuhan pasien dalam perencanaan pengobatan dan kepatuhan dokter dalam menjalankan pedoman klinis TB. Kegiatan intervensi ini meliputi workshop untuk mengembangkan sistem dan implementasi sistem.

        1. Clinical Audit dengan umpan balik untuk peningkatan kinerja klinis

Intervensi ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas pelayanan klinis TB, yang mencakup kualitas diagnosis, kualitas pengobatan, dan hasil klinis (clinical outcome). Proses audit klinis ini akan mencakup mutu pelayanan secara tim di setiap rumah sakit untuk meningkatkan mutu kompetensi tim rumah sakit dalam melakukan audit klinis.

        1. Pengembangan Individual Key Performance Indicators (KPIs)  untuk dokter

Intervensi ini bertujuan untuk mengembangkan alat ukur kinerja individu khususnya bagi tenaga medis, yang meliputi dokter dan perawat. Sistem ini akan mencakup indikator kinerja, metodologi pengumpulan data, dan mekanisme insentif rumah sakit untuk kinerja yang baik. Indikator kinerja akan mencakup indikator-indikator klinis sesuai dengan pedoman klinis untuk TB serta kriteria yang relevan dengan peningkatan kinerja, misalnya ketepatan waktu dan kelengkapan rekam medis.

        1. Pengembangan budaya mutu yang berisi siklus Plan-Do-Study-Act (PDSA)

Intervensi ini bertujuan untuk meringkas pengalaman rumah sakit dalam menerapkan intervensi 1 sampai 5 dan proses belajar dari pengalaman yang sudah dilakukan. Dalam strategi ini kita akan mengevaluasi apakah model perbaikan (Siklus Plan-Do-Study-Act) diimplementasikan dalam kegiatan dan mengevaluasi yang berkelanjutan dari model yang telah diterapkan.

    1. Analisis biaya Analisis biaya diterapkan beberapa langkah:
           a. Mengidentifikasi alur pasien berdasarkan clinical pathway dan pedoman pelayanan klinis yang baru yang telah dikembangkan dari langkah    sebelumnya oleh tim klinis.


Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap komponen dalam perawatan pasien dapat dihitung. Setiap rumah sakit akan memiliki clinical care guideline yang dikembangkan oleh tim TB rumah sakit bersama para ahli dari unsur organisasi profesi. Berdasarkan pedoman, langkah ini akan menghasilkan grafik yang menggambarkan alur pasien dari lima jenis kasus TB.

            a. Mengidentifikasi mutu dan jumlah sumber daya yang terlibat dan yang tersedia dalam alur pasien.
Alur pasien akan memberikan informasi tentang dimana unit di rumah sakit yang terlibat dalam proses perawatan untuk kasus TB. Detail informasi akan diperoleh dengan mengikuti jalur kasus/pasien nyata dari setiap jenis kasus TB, catatan setiap sumber daya (staf rumah sakit, peralatan medis, dan lain-lain) dan persediaan (persediaan medis dan non medis), yang digunakan sebagai bagian dari pelayanan pasien (berapa banyak dan berapa lama). Rangkaian focus group discussion akan dilakukan dengan staf dari unit yang relevan untuk menentukan jumlah persediaan atau durasi pelayanan dan peralatan yang digunakan untuk pasien tertentu.


            a. Mengidentifikasi biaya untuk setiap sumber daya.
Semua biaya yang disebabkan oleh pemanfaatan sumber daya atau konsumsi persediaan, akan dikelompokkan ke dalam biaya langsung dan tidak langsung. Biaya langsung adalah semua biaya yang terjadi dari kegiatan, yang secara langsung dilakukan untuk pasien, misalnya perlengkapan medis dan non-medis. Biaya tidak langsung adalah semua biaya yang terjadi dari kegiatan, yang secara tidak langsung dilakukan untuk pasien, misalnya gaji bulanan staf rumah sakit, pemeliharaan gedung, listrik, dll. Untuk menentukan biaya, beberapa metode akan diterapkan, baik melalui FGD dan menelusuri dokumen yang relevan.


            a. Menganalisis biaya per pasien
Langkah ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang biaya per kunjungan pasien dan kasus TB. Hasil akhir akan menggambarkan biaya riil berdasarkan aktivitas standar perawatan. Metode ABC akan digunakan dalam proses perhitungan biaya.

    2. Mengembangkan/upgrading Accounting Informasi System (AIS) Rumah sakit di Indonesia umumnya menerapkan AIS secara tidak terintegrasi.

Pada penelitian HDMS Phase 1, terungkap bahwa data keuangan dan akuntansi di rumah sakit tidak terstruktur dan tidak terdokumentasi dengan baik. Oleh karena itu, data keuangan dan akuntansi jarang digunakan untuk pengambilan keputusan klinis atau dalam perencanaan rumah sakit. Dengan menerapkan AIS akan meningkatkan kemampuan rumah sakit untuk proses penyusunan biaya dalam setiap langkah perawatan pasien, untuk memantau alur dokumen/data dan melakukan deteksi dini pada in-efisiensi ketika proses ini dikombinasikan dengan informasi dari pedoman klinis. Untuk mengembangkan sistem informasi akuntansi, langkah-langkah berikut akan dilakukan:


            a. Pemetaan sistem informasi akuntansi yang ada

Kegiatan ini bertujuan untuk menggambarkan situasi yang relevan ke rumah sakit AIS, menilai pelaksanaan sistem yang ada dan memberikan dasar untuk memperbaiki sistem. Langkah ini meliputi menilai struktur akuntansi yang ada dan mendeskripsikan jenis pekerjaan untuk tim keuangan dan akuntansi dan staf terkait lainnya di setiap rumah sakit.
            
            a. Mengembangkan atau memperbarui kebijakan akuntansi

Kegiatan ini dapat dilakukan bersama dengan langkah-langkah lain dan bertujuan untuk memberikan pedoman bagi pengembangan dan lebih mengimplementasikan aspek teknis AIS. Langkah ini termasuk memodifikasi kebijakan sebelumnya yang diperlukan atau mengembangkan konsep baru, rekomendasi mengenai struktur organisasi dan memperbarui deskripsi pekerjaan tim keuangan dan akuntansi dan staf terkait lainnya di rumah sakit.
            
             a. Mengembangkan atau memperbarui SOP akuntansi untuk pendapatan, biaya dan persediaan

Langkah ini bertujuan untuk mengembangkan bentuk-bentuk baru yang diperlukan dan untuk menerjemahkan peningkatan struktur dan deskripsi pekerjaan ke dalam aliran dokumen keuangan.
            
              a. Implementasi

Tahap implementasi akan melibatkan tim keuangan dan akuntansi dan staf terkait lainnya di setiap pemberhentian dari alur pasien. Proses implementasi akan dipantau dan didokumentasikan.
            
              a. Evaluasi SOP Akuntansi

    Evaluasi akan dilakukan di setiap akhir bulan selama tahap implementasi. Langkah ini bertujuan untuk menemukan kelemahan sistem dan merekomendasikan perbaikan.
           
               a. Menyelesaikan AIS dan Menulis Laporan

Berdasarkan hasil langkah-langkah sebelumnya, tim peneliti bekerja sama dengan tim rumah sakit akan menyelesaikan penerapan AIS dan memastikan bahwa kebijakan akuntansi baru disosialisasikan dengan baik di seluruh rumah sakit.

Trackback from your site.

Leave a comment